Hubungan Agama dengan Ilmu Pengetahuan Sosial

Kamis, 22 Oktober 2009

1. Hubungan Agama dengan Ilmu Pengetahuan Sosial

Dalam situasi yang semakin global seperti sekaran ini manusia dibedakan kepada berbagai tantangan, disamping peluang dan kesempatan dalam keadaan demikian dijumpai adanya manusia yang berhasil menyikapi kehidupan global secara lebih bermakna dan berdaya guna, tetapi malah ada juga yang tidak tahu arah yang harus dituju.

Dan ilmu pengetahuan social diharapkan dapat menjadi salah satu alternative strategis bagi pengembangan manusia pada situasi global sekarang ini. Namun, demikian ilmu pengetahuan sosial dinilai sudah mulai atau hamper gagal dalam memberikan pemecahan masalah sosial yang muncul dalam era globalisasi, karena dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang dijadikan landasan dalam ilmu pengetahuan sosial tersebut berasal dari filsafat Barat yang bertumpu pada logika rasional dan cara berpkir empiric.

Dan salah satu upaya mengatasi kebuntuan dari ilmu pengetahuan sosial yang demikian itu, agam diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap berbagai masalah yang berkaitan dengan masalah social, ekonomi, politik, keamanan maupun kemakmuran, dan lain sebagainya. Sehingga kehadiran agam tersebut secara manfaatnya para penganut agama.[1]

Dengan uraian diatas maka judul makalah ini dapat dipetik agak lebih menjadi jelas yang menghubungkan antara ajaran agama islam dengan ilmu social.

1. Padangan Ajaran Islam Tentang Ilmu Sosial

Perbandingan ajaran islam tentang ilmu social dapat dilihat dari ajaran islam di bidang sosial. Islam ternyata agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah. Hal demikian dapat kita lihat misalnya bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan sosial yang paling penting maka ibadah diperpenek atau ditangguhkan (diqhashar atau di jama’ dan bukan ditinggalkan).

Keterkaitan agama dengan masalah kemanusiaan menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan dizaman modern ini. Kita telah mengetahui bahwa di dalam situasi dunia yang semakin global ini manusia menghadapi berbagai macam persoalan yang benar-benar membutuhkan pemecahan segera. Terkadang justru situasi yang penuh problematika di dunia medren justru disebabkan perkembangan pemikiran manusia sendiri. Dibalik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknoloi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia.

Sehingga dalam keadaan demikian, tampak bahwa kita harus memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari problematika tersebut. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksudkan adalah ilmu pengetahuan yang digali dari nilai-nilai agaa. Kuntowijaya menyebunya sebagai ilmu sosial propektif.[2]



2. Ilmu Sosial Yang Bernuansa Islam

Kita butuh ilmu sosial propektif, yaitu ilmu social yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena social, tetapi juga memberi petunjuk kea rah mana transformasi itu dilakukan, untuk siapa dan oleh siapa.

Dengan ilmu social profektik ini, kita dapat melakukan reorientasi terhadap epistimologi, orientasi terhadap mode of thougt dan mode of inquirity yaitu suatu pandangan bahwa sumber ilmu bukan hanya berasal dari rasio dan empiris sebagaimana yang dianut dalam masyarakat barat, tetapi juga dari wahyu.

Dari defenisi yang dimaksud di atas kesimulan bahwa ada 3 unsur pokok yang mendasari ilmu pengetahuan yaitu :

1. Rasionalis yang mempergunakan metode deduktif dalam meyusun pengetahuan, premis yang dipergunakan dalam penalaran diperoleh dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima oleh akal.

2. Empiris, bahwa pengetahuan manusia itu di dapatkan melalui pengalaman yang konkrit.

3. Wahyu, tidak memerlukan penalaran tetapi menggunakan wahyu sebagai sumber pengetahuan atau sains yang menjadi petunjuk /inspirasi akal untuk menemukan hukum alam (sunnatullah).

Selain itu ilmu social itu harus di kawal, oleh akhlaqul karimah artinya oran-oran yang mengembangkan, menciptakan dan ada yang menggunakan teknologi harus memiliki landasan akhlaqul karimah yang kuat agar teknologi yang diciptakan berorientasi untuk membangun peradaban yang manusiawi, sehingga teknologi tidak digunakan untuk hal-hal yan merusak. [3]

Seperti tenaga nuklir misalnya disatu pihak dapat menjadi sumber energi bagi manusia, tetapi jua bias digunakan untuk menjadi senjata permusuhan bagi manusia, sebagaimana Nagasaki dan Hirosima yang di bom oleh Amerika Serikat.

3. Cara Ilmu Sosial Propektif Era Globalisasi

Dengan ilmu social propektif yang telah dibangun maka tidak perlu takut atau khawatir terhadap dominasi sains Barat dan arus globalisasi yang terjadi sekarang ini, islam adalah sebuah paradigma terbuka. Misalnya pada dunia seperti Indonesia, kesenjangan dalam bidang ekonomi menunjukkan bahwa perlunya diterapkan ilmu social politik. Islam mengakui adanya perbedaan kelas sebagai fitrah.

Islam berupaya ummatnya agar menegakkan keadilan dan egaliter, islam berupaya mengikis kesenjangan tersebut dengan melalui berbagai upaya seperti, melalui institusi zakat, infaq, sadaqah dan sebagainya.

Peran ilmu social propektif di area globalisasi ini sebagai landasan moral agar dalam mempelajari dan menguasai IPTEK serta mengembangkannya dapat terhindar dari hal-hal yang merusak peradaban islam dan alam semesta.[4]

A. Kesimpulan

Agama pada umumnya dan islam pada khususnya dewasa ini semakin dituntun peranannya untuk menjadi pemandu dan pengarah kehidupan manusia agar tidak terperosok kepada keadaan yang merugikan dan menjatuhkan martabatnya sebagai mahluk mulia.

Dalam situasi yang semakin global seperti sekarang ini dihadapkan kepada berbagai tantangan. Dalam keadaan demikian, dijumpai adanya manusia yang berhasil meyikapi kehidupan global tersebut secara lebih bermakna dan berguna, tetapi malah ada juga yang tidak tahu arah yang harus dituju.

Agama dapat diharapkan untuk memberikan jawaban terhadap berbagai masalah baik yang berkaitan dengan masalah social, ekonomi, politik, keamanan di yakini bahwa agama mendukung nilai-nilai universal dan absolute yang mampu memberikan resep-resep mujarah yang tidak ada habis-habisnya.namun diberikan pendekatan-pendekatan baru yang lebih relevan yang tdak cuku dipahami dari satu pendekatan saja, melainkan dengan menggunakan penekatan yang komprehensif, actual dan integral sehingga agama tersebut mampu meresponi berbagai persoalan aktual dalam kehidupan modern.



[1] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : PT. Grafindo Persada, 2008) hlm. 53

[2] Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, (Bandung ; Mizan, 1991), Cet. I

[3] Tim Perumus, Fakultas Teknik UMJ, Jakarta, Al-Islam dan Iptek I, (Jakarta PT. Raja grafindo Persada,

1998), hlm. 155-156

[4] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm 59-60.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 
 
Copyright © Tugas Akhir Skripsi